MENGGANTI RADIATOR
Kira-kira 10 km lagi aku tiba di rumah, setelah melakukan perjalanan 200-300 km. Ditengah kemacetan, temperatur mesin naik hingga 90 derajad Celcius, tiba-tiba radiator meledak. Mengapa ini terjadi? Bukankah radiator mampu menahan panas lebih dari itu?
Setelah dibongkar, ternyata radiator --- yang telah berusia 15 tahun --- ini memiliki kondisi yang memprihatinkan. Banyak kerak di setiap saluran. Tentu ini disebabkan pengisian air radiator yang tidak tepat, selain karena faktor usia. Itu sebabnya, dengan panas yang belum maksimal pun radiator dapat pecah.

Radiator W202 memiliki 2 sisi yang berbahan plastik. Sisi kiri (jika kita di bangku steer menghadap ke jalan), terbuat dari plastik tanpa rangka. Sedangkan sisi kanan terbuat dari plastik dengan rangka. Nah, yang pertama pecah tentu bagian yang berbahan plastik tanpa rangka. Jika bagian tersebut menguat karena berbagai sebab, maka bagian lainnya yang berbahan plastik dengan rangka, berikutnya akan pecah.
Tak bisa dibayangkan jika radiator di design tahan panas setinggi-tingginya. Mungkin akan menjebol mesin!
Singkat cerita, cari radiator baru.
Setelah tanya-tanya mbah Google dan diskusi dengan teman-teman di toko parts dan di bengkel, kuputuskan untuk membeli 1 unit radiator merk Nissins, yang cocok dengan tempat dan struktur yang tersedia.
Selanjutnya radiator diisi dengan air murni (air limbah AC atau air RO) dan kondisi diperiksa secara reguler, baik kuantitas maupun kualitasnya.
MEMERIKSA RESERVOIR
Jika anda membuka kap mesin W202, maka di bagian kanan mobil terdapat reservoir atau tabung radiator.
Tabung ini dapat dilepas untuk dibersihkan. Tapi hati-hati! Jangan melepas slang air yang tersambung di tabung, tapi lepaslah slang air yang tersambung di mesin. Karena, jika anda melepas dari sisi tabung, dapat menggoyang pentil besi dan merusak tabung dan berakibat kebocoran.
Setelah terlepas, bagian dalam dan luar tabung dapat dibersihkan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar yang baik dan sopan.